SEJARAH PAN

 SEJARAH BERDIRINYA PARTAI AMANAT NASIONAL



Kehadiran PAN tidak bisa dilepas dari tokoh utamanya, Amien Rais. Kemunculan Amien Rais di pentas nasional juga tidak bisa dipisahkan dengan situasi rezim saat itu, Soeharto, yang telah mulai memerintah Indonesia sejak tahun 1965 atau resminya sejak tahun 1966. Diawal-awal kepemimpinannya Soeharto dipandang berhasil membawa Indonesia keluar dari kebangkrutan, namun tidak demikian di akhir kepemimpinannya. Soeharto begitu otoriter dan represif. Terjadi ketimpangan sosial dimana-mana, Korupsi dan nepotisme telah berurat berakar dan mencengkram jauh ke dalam watak aparat pemerintah, bahkan watak buruk ini merembet di kalangan swasta. Situasi inilah yang oleh para pakar memprediksikan sebagai bahaya serius yang mengancam bangsa ini. Di masa kepemimpinan Soeharto setiap persoalan diselesaikan dengan pendekatan senjata, sehingga dipermukaan kelihatannya aman tetapi di bawahnya bak api dalam sekam yang membara. Situasi di Aceh, Maluku, Irian Jaya (kini Papua) dan Timor-Timor adalah contoh betapa persoalan tidak pernah selesai. Pendidikan politik/demokrasi tidak berjalan, media masa dibatasi sehingga terjadinya kebodohan rakyat di tingkat bawah karena mereka menjadi miskin informasi. Di satu sisi berulang-ulangnnya keterpilihan Soeharto sebagai Presiden melalui MPR membuat kejenuhan politik di tanah air. Setiap MPR akan menggelar sidang Paripurna untuk memilih Presiden baru, sudah dipastikan Soeharto akan terpilih kembali, demikian juga dengan hasil Pemilu yang selalu dimenangkan oleh Golkar.Bukan rahasia lagi baik keterpilihan Soeharto maupun kemenangan Golkar setali tiga uang. Bahwa kemenangan politik mereka didapatkan melalui pemaksaan, pemanipulasian /kecurangan. Maka sudah dapat disimpulkan selama 32 tahun rezim Soeharto, kemenangan politiknya bersama Golkar sesungguhnya tidak dibarengi dengan legitimasi yang jujur.Sampailah kemudian pada bulan Mei 98 yang sangat menegangkan, muncul krisis moneter secara global. Sesuai namanya dimana-mana terjadi krisis ekonomi yang hebat, namun berbeda dengan Indonesia, di Negara lain krisis tersebut tidak sampai membuat Negara itu bangkrut. Hal ini disebabkan karena pondasi ekonomi Negara itu dibangun dengan sangat kuat.Di Indonesia pondasi ekonominya sangat rapuh sehingga ketika dilanda badai krisis, kehancuran ekonominya tidak dapat diperbaiki, kecuali membangunnya dari awal lagi. Parahnya lagi kehancuran ekonomi ini dibarengi dengan krisis politik dalam negeri. Dari krisis ekonomi dan krisis politik merembet ke krisis-krisis lainnya, seperti krisis moral, krisis budaya dan lain-lainnya, dan bukannya semakin reda tetapi semakin membesar tanpa kendali sehingga krisis multidimensional inilah yang kemudian menjadi alasan kuat untuk menjatuhkan Soeharto. Demonstrasi setiap hari muncul dimana-mana seakan ada kekuatan spriritual yang sama menimpa seluruh otak rakyat Indonesia untuk meminta Soeharto mundur, akan tetapi keinginan itu tidak pernah terbuka, tidak ada seorangpun yang secara terbuka meminta Soeharto mundur karena takut diculik, ditahan tanpa proses pengadilan dan bahkan sampai penghilangan nyawa.Adalah setelah kejadian penembakan di Universitas Tri Sakti, yang menewaskan 3 orang mahasiswa, memberikan kekuatan untuk seorang Amien Rais, satu-satunya tokoh nasional saat itu yang secara terang benderang meminta Soeharto mundur. Maka suara lantang itupun bergemuruh mewarnai dan menginspirasi para aktivis untuk menyuarakan hal yang sama. Ribuan perwakilan mahasiswa bercampur dengan para aktivis dan komponen-komponen lainnya menduduki gedung DPR/MPR. Dan diakhir cerita, pada tanggal 21 Mei 1998, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya (atau dalam bahasa yang ia pilih “berhenti”) sebagai Presiden RI dan selanjutnya diganti oleh wakilnya Prof. Dr. B.J. Habibie.Keberanian Amien Rais inilah yang menjadikannnya tokoh sentral dan bahkan satu-satunya yang dianugerahkan sebagai “Bapak Reformasi” oleh mahasiswa IPB saat itu. Banyak pihak yang memintanya menjadi pemimpin baru, baik sebagai pemimpin Negara maupun sebagai pemimpin partai politik yang baru.Sebelum itu, di Jakarta, tanggal 12 Mei 1998 dibentuk Badan Koordinasi Ummat Islam (BKUI) oleh para aktivis Islam. Badan yang beranggotakan 40 Ormas Islam (Persis, SI, Perti, Al-Irsyad dan KISDI) disponsori oleh Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) untuk mendirikan partai baru yang berbasis eks Masyumi (Majelis Syuro Indonesia) yang sekarang kita kenal dengan nama PBB. Harapan tokoh-tokoh BKUI adalah agar Amien Rais bersedia menjadi pemimpinnya.Rencana tersebut kemudian ditentang keras oleh teman-teman Amien Rais, terutama Dawam Rahardjo. Dawam lebih menginginkan membentuk partai baru yang terbuka dan plural, Dawam tidak ingin Amien terjebak dengan politik sektarianisme yang justeru akan memperkecil dirinya sendiri. Pada tanggal 14 Mei 1998, 50 tokoh nasional (informal leader’s) diantaranya: Amien Rais, Gunawan Muhammad (Tempo), Emil Salim (mantan Menteri), Abdillah Toha (Pimp Majalah Ummat), A.M. Fatwa (Petisi 50 dan Tokoh Muhammadiyah), Faisal Basri (Eokonom UI), Albert Hasibuan (Praktisi Hukum), Dawam Raharjo (LP3ES), Toety Herati (LSM), Arbi Sanit (Dosen Ilmu Politik UI), Ismed Hadad (Aktivis Alumni HMI), Rizal Ramli (Ekonom), Zoemrotin, Arifin Panigoro (Pengusaha), Adnan Buyung Nasition (YLBH), Emha Ainun Najib (Budayawan), Muchtar Pabotinggi dan Sandra Hamid (sebenarnya ada Prof. Soemitro Djojohadikusumo – orang tuanya Prabowo Subianto - telah menyatakan kehadirannya tapi karena situasi yang tidak memungkinkan, ia mengurungkan kehadirannya) melakukan pertemuan di Gallery Cemara.Gabungan para tokoh ini yang lebih dikenal dengan nama MARA (Majelis Amanat Rakyat) – dan di luar sering diplesetkan dengan nama MAR (Muhammad Amien Rais). Mungkin karena tokoh yang paling menonjol di kelompok tersebut adalah Amien Rais – Tetapi terlepas dari itu semua kelahiran MARA sebenarnya juga embrio partai politik baru yang sekarang kita kenal dengan nama Partai Amanat Nasional (PAN).MARA sesungguhnya diniatkan sebagai kelompok penekan (pressure group) terhadap rezim Soeharto. Kenyataannya pada saat itu MARA menjadi kelompok yang sangat produktif mengeluarkan gagasan-gagasan politik dan paling menonjol dan berani dalam aktivitas politik. Karena keberanian MARA ini pula yang membuat kelompok-kelompok lain di seluruh tanah air terinspirasi untuk melakukan tekanan dan tuntutan mundur terhadap rezim Soeharto, maka tidak ada yang menyangka gerakan-gerakan semakin menggelinding dan berubah menjadi gelembung raksasa yang tidak dapat dihadang oleh kekuatan manapun juga.Pasca kejatuhan Soeharto aktivitas MARA terus menjadi penentu arah politik Indonesia, anggota MARA pun semakin membengkak dan kemudian semakin menguatkan niatan sebagian para anggotanya melahirkan partai baru. Mereka yang setuju membentuk partai baru diantaranya, adalah: Albert Hasibuan, Faisal Basri, Dawam Raharjo, Goenawan Muhammad, Arif Arryman, Zoemrotin,Toety Herati Noerhadi dan Nursyahbani Kacasungkono, sedangkan mereka yang tidak setjua diantaranya, adalah: Arbi Sanit, Abdul Hakim Garuda Nusantara, Mudji Soetrisno, Romo Mangun, Franz Magnis Suseno dan Heri Achmadi.Amien Rais sendiri memandang bahwa masing-masing individu aktivis MARA mempunyai kebebasan untuk memilih salah satu dua hal tersebut. Karena itu, mereka yang menginginkan adanya partai politik baru kemudian mendirikan partai, sedangkan mereka yang tidak setuju bisa memilih jalan lain.Tanggal 27 Juli 1998, Amien Rais menghadiri pertemuan MARA di Galeri Cemara, Jakarta. Hadir dalam acara tersebut antara lain: Goenawan Mohammad, Mukhtar Pabottinggi dan Albert Hasibuan. Selesai pertemuan, diadakan konferensi pers. Dalam kesempatan ini Amien Rais menyinggung lagi tentang rencana pendirian partai, ia menyebut bahwa platform partai sedang dipersiapkan lebih lanjut, diutarakan bahwa untuk bidang politik dipimpin oleh Mukhtar Pabottinggi, hukum oleh Albert Hasibuan, sedangkan Economi oleh Anggito Abimanyu dan Faisal Basri.Seusai acara, Amien Rais menemui Goenawan Moehamad dan berbicara empat mata. Amien menceritakan lamaran tokoh-tokoh PPP beberapa hari sebelumnya. Ternyata Goenawan memberikan respon positif. Amien Rais kemudian berfikir, bagaimana mengawinkan partai yang akan dilahirkan MARA dengan PPP yang akan direformasi. Amien Rais kembali bertemu tokoh di pondok Indah. Dalam kesempatan ini mengutarakan ia tertarik untuk bergabung dengan PPP, namun katanya, ibarat rumah, PPP perlu banyak kamarnya, diperluas ruang tamunya, diperbesar dapurnya, karena akan dihadirinya penghuni baru, tanpa menggusur yang lama. Kalau perlu labelnya diganti, agar lebih menarik.Menanggapi usulan Amien Rais, Yusuf Syakir sebagai juru bicara PP menyampakan bahwa teman-temannya untuk menjadi anggota Majelis Pakar.Usai pertemuan Amien Rais langsung berangkat menuju kantornya Amin Aziz di Tebet. Disitu telah menunggu Syafi Ma’arif, Sutrisno Muhdam, A.M.Fatwa dan Dawam Raharjo. Mereka mendiskusikan untung dan ruginya membuat partai baru atau bergabung dengan PPP. Kesimpulannya, baik mendirikan partai baru maupun bergabung dengan PPP sama-sama memiliki keunggulan sekaligus kelemahan. Idealnya adalah bila partai yang akan didirikan MARA dapat merger dengan PPP.Tanggal 3 Agustus, Amien Rais kembali bertemu tokoh-tokoh PPP di Pondok Indah. Hadir dalam acara tersebut antara lain: Yusuf Syakir, Aisyah Amini, Tosari Wijaya, Bachtiar Hamzah, Ali Hardi Kiai Demak, Faisal Baasir, Salahuddin Wahid. Sementara Amien Rais ditemani oleh Sutrisno Bachir. Dalam pertemuan ini, kemungkinan Amien Rais bergabung dengan PPP semakin kongkrit. Yusuf Syakir selaku juru bicara, menyampaikan hal-hal yang lebih lebih kongkrit dibanding pertemuan sebelumnya. Pertama, ia menyatakan bahwa Buya Ismail Hasan Metarium sudah menyatakan tidak bersedia dicalonkan kembali sebagai Ketua PPP. Kedua, masalah nama partai dapat ditinjau kembali, meskipun mayoritas masih ingin mempertahankan nama PPP. Ketiga, bersama Amien Rais yang akan diusulkan sebagai Ketua Majelis Pakar, ada nama-nama seperti : Baharuddin Lopa, Ahmad Bagja, Fuad Bawazir, Goenawan Mohamad dan Salahuddin WahidTanggal 5 Agustus, Amien Rais menghadiri pertemuan yang dilaksanakan di Wisma Tempo, Sirnagalih, Jawa Barat. Pertemuan ini dihadiri oleh tiga kelompok. Pertama, PPSK yang diwakili oleh Mohtar Mas’ud, Rizal Panggabean, Chairil Anwar, dan Machfud. Kedua, kelompok Tebet diwakili oleh Amin Aziz, Dawam Raharjo, A.M.Fatwa, Abdillah Toha dan A.M.Lutfi. Ketiga, kelompok MARA diwakili oleh Goenawan Mohamad, Albert Hasibuan, Zumrotin, Nusyahbani Kacasungkana dan Ismed Haddad. Amien Rais berada disini sebentar, karena ia harus segera kebandara Soekarno-Hatta untuk pergi keluar negri bersama Syafi’i Ma’arif.Pertemuan ini kemudian menyepakati susunan Formatur PAN yang selanjutnya disebut sebagai deklarator PAN, mereka diantaranya adalah: Amien Rais (ketua formatur) dengan 8 orang anggota, yakni: Syamsul Rizal Panggabean, Zoemrotin, AM Fatwa, Ahmad Mas’oed Luthfi, Abdillah Toha, Albert Hasibuan, Goenawan Moehammad, dan Ismid Haddad. Sebenarnya Amien Aziz terpilih juga sebagai anggota formatur akan tetapi dengan ketulusan hati mengundurkan diri dan memberikan kesempatan kepada Abdillah Toha. Tim Formatur ini kemudian membentuk susunan pengrus PAN yang pertama.Ada dua Agenda besar yang harus dirumuskan dalam pertemuan ini. Pertama, menyusun platform partai. Kedua, menyepakati formatur yang akan ditugasi untuk menyusun kepengurusan. Melalui voting, nama partai kemudian disepakati sebagai Partai Amanat Nasional (disingkat PAN). Ketua formatur ditetapkan M.Amien Rais, dengan delapan anggota, antara lain: Goenawan Mohamad, Zumrotin, Abdillah Toha, A.M.Lutfi, Ismed Haddad, Albert Hasibuan dan Rizal PanggabeanTetapi sepulang dari luar negri, Amien Rais diminta menandatangani “surat kesediaan” untuk duduk di Majelis Pakar PPP. Beberapa media massa menyiarkan bergabungnya Amien Rais ke PPP sendiri. Dengan rencana bergabungnya Amien Rais ke PPP, Mereka yang telah berkumpul di Wisma Tempo merasa gelisah mendengar berita itu. Mereka berusaha menemui Amien Rais untuk mendapatkan penjelasan kebenaran berita tersebut, selain keinginan segera menyampaikan hasil pertemuan yang sudah disepakati.Saat itu Amien Rais dikitari orang.orang tertentu, sehingga tidak mudah ditemui.Beberapa hari kemudian, muncul beberapa nada sumbang dari tokoh-tokoh PPP sendiri dengan rencana bergabungnya Amien Rais. Selain itu, dari hasil jejak pendapat yang dilaksanakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Solo, ternyata mayoritas warga Muhammadiyah menginginkan Amien Rais mendirikan partai sendiri. Dari DKI Jakarta, juga datang surat resmi dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah yang mendesak agar Amien Rais mendirikan partai sendiri.Dengan perjuangan khusus, Rizal Panggabean dan A.M Fatwa akhirnya berhasil menemui Amien Rais, saat bersiap-siap untuk tampil dalam sebuah acara di TV swasta. Dan mereka menyampaikan hasil pertemuan di Sirnagalih. Tanggal 13 Agustus malam, Amien Rais kembali bertemu tokoh-tokoh PPP di Pondok Indah.Ada sekitar sepuluh tokoh PPP hadir malam itu. Yusuf Syakir memulai dengan sebuah kiasan, katanya “Amien Rais, ibarat orang pacaran, kini kita sudah menikah, maka itu diharapkan Amien Rais tidak lagi melirik gadis lain.” Dengan kiasan juga Amien Rais menjawab;” dalam Islam kan boleh kawin dua.” Amien Rais kemudian menyinggung komentar beberapa petinggi PPP yang bernada negatif tentang rencana itu.Meskipun Yusuf Syakir dan kawan-kawan berusaha meyakinkan bahwa komentar yang dimaksud bukan berarti menentang. Juga ia mengingatkan, apapun yang ingin dicapai, semua memerlukan perjuangan.Keesokan harinya, Amien muncul di TV mengutarakan rencananya untuk mendirikan partai baru. Sebuah partai terbuka, lintas agama dan lintas etnik. Diharapkan bisa dilaksanakan bertepatan dengan hari kemerdekaan. Tetapi, karena faktor etnis, akhirnya deklarasi baru bisa dilaksanakan pada 23 Agustus 1998, di Istora Senayan. Puluhan ribu masa berjubel menghadirinya. Puluhan tokoh-tokohnya tampil dipanggung, melambai-lambaikan tangan menyambut riuhnya tepuk tangan hadirin saat itu.Periode ini pengrus PAN dianggap sebagai miniatur Indonesia karena bergabung disini berbagai latar belakang etnis/agama/paham/aliran. Orang juga mengidentifikasinya sebagai partai kaum intelektual karena pengurusnya sebagian besar adalah para cendekia papan atas. Gus Dur memberi komentar dengan mengatakan “Pengurus partai kayak pengurus Universitas saja”.Ciri intelektualitasnya di satu pihak sebagai kekuatan namun disisi lain dipandang sebagai kelemahannya. Terlepas dari itu semua, yang pasti PAN dilahirkan untuk menjadi gerbong baru Indonesia yang bercirikan kebangsaan Indonesia yang majemuk. Dan cirri ini sampai sekarang tetap dipertahankan dalam platform dan anggaran dasarnya. Orang-orang yang bergabung sebagai pengurus pada periode I ini diantaranya, adalah:1. Dr. Amien Rais (ketua Umum)• Prof. Dawam Rahardjo, AM Fatwa, Abdillah Toha,K. Sindhunata, Prof. M. Amin Aziz, Moeslim Abdurrahman, Th. Sumartana, Toety Heraty2. Faesal Basri (Sekjen)• Afni Ahmad, Hakam Naja, Dr. Hasbalah M Saad, Muhammad NAjib, Patrialis Akbar, Syamsurizal Panggabean, Sanoso, Sandra Hamid, Al-Hilal Hamdi,3. Soenoto (Bendahara Umum)• Murniati Muntali, Tamsil Linrung, Dst4. Prof. Dr. Taufiq Abdullah (Ketua MPP)• Sutrisno Muchdam, Dr. Christianto Wibisono, Prof. Hembing Wijaya Kusuma, M. Assegaf (Pengacara), Muhammad Sward, Dst5. Sedangkan di Departemen, masing-masing: Miranti Abidin, Bara Krishara Hasibuan, Muh. Hatta Rajasa, DstKini PAN sudah berusia 12 tahun. Dalam usia belia sudah mampu menjadi pewarna perpolitikan nasional, bahkan pada periode-periode awal pemerintahan reformasi PAN sangat mewarnai dan sangat menentukan arah kebijakan politik nasional.Pada Pemilu pertama PAN berhasil menempatkan 34 orang kadernya sebagai anggota DPR RI, sehingga PAN termasuk lima besar pemenang pemilu 1999. Tahun 2004 juga lima besar dengan 53 anggota. Sedangkan pada Pemilu 2009 berhasil menempatkan sejumlah orang kadernya di DPR (maaf jumlahnya belum saya cek).Kongres I dilkukan di Yogyakarta menetapkan Amien Rais sebagai Ketua Umum dan Hatta Rajasa sebagai Sekjen, sedangkan pada Kongres II di Semarang terpilih Soetrisno Bachir sebagai ketua Umum dan Zulkifili Hasan sebagai Sekjen. Sedangkan Kongres III di Batam terpilih secara aklamasi Hatta Radjasa sebagai Ketua Umum dan Taufiqurrahman sebagai Sekjen. Saingannya Dr. Drajad Hari Wibowo ditetapkan sebagai wakil ketua umum. (pur)

(Oleh : Purwaka)
 
Support : Design by Maskolis | Modify by Agoesthaman
Proudly powered by Blogger
www.pan-tambunselatan.com
Copyright © 2011. PARTAI AMANAT NASIONAL DPC TAMBUN SELATAN--- - All Rights Reserved